Alamat

Jl. Raya Panglegur KM.4 Pamekasan

Telp./WA

+62 324 322551

Email

kaprodi.mpi@iainmadura.ac.id

Kuliah Itu Scam; Hanya Narasi Viral atau Realitas Pendidikan?

  • Diposting Oleh Admin Web Prodi MPI
  • Senin, 12 Januari 2026
  • Dilihat 92 Kali
Bagikan ke

Oleh: Malika Indira Ainia
Mahasiswa MPI Angkatan 2024

Belakangan ini, Media Sosial di ramaikan dengan statement seorang konten kreator  yang menyebutkan bahwa kuliah itu scam jika tidak sesuai dengan spesialisasi yang ditekuninya menimbulkan perdebatan dikhalayak umum. Respons yang muncul sangat beragam namun didominasi oleh kelompok yang tidak sependapat dengan pernyataan tersebut. Banyak warganet menegaskan bahwa kuliah tetap memiliki peran penting dalam membentuk cara berpikir, kedisiplinan intelektual, serta membuka akses terhadap peluang profesional tertentu. Sebagian bahkan secara terbuka “memamerkan” capaian akademik dan karier mereka sebagai bukti bahwa pendidikan tinggi bukanlah penipuan, melainkan investasi jangka panjang yang hasilnya dirasakan secara bertahap.

Di sisi lain, perdebatan semakin melebar ketika beredar kabar bahwa ia menikahi istrinya yang saat itu berusia muda. Fakta ini kemudian dijadikan bahan perbandingan oleh warganet untuk mengkritisi validitas narasi yang disampaikannya. Bahkan, muncul pula pernyataan perbandingan yang cukup tajam, salah satunya “mending kena scam kuliah, dari pada scam nikah muda”

Lalu, siapa yang benar?

Kritik terhadap dunia pendidikan tinggi memang tidak sepenuhnya keliru. Biaya kuliah yang tinggi, ketimpangan kualitas perguruan tinggi, serta ketidaksesuaian antara kurikulum dan kebutuhan dunia kerja adalah persoalan nyata. Banyak sarjana yang masih harus berjuang keras di awal kariernya. Kondisi inilah yang kemudian melahirkan kekecewaan dan memicu label “scam” terhadap kuliah.

Namun, apakah hal tersebut otomatis menjadikan kuliah tidak penting? Tidak sesederhana itu. Pada kenyataannya, ijazah hari ini tidak lagi menjadi jaminan akhir kesuksesan, melainkan titik awal. Yang menentukan hasil akhirnya justru kemampuan individu untuk beradaptasi, memiliki keterampilan nyata, serta menyusun strategi bertahan hidup dan berkembang di dunia kerja yang kompetitif dan terus berubah.

“Kuliah SCAM? Yashhh

SCAM = Skill, Connection, Attitude, Mindset”_ warganet

Kuliah sejatinya menyediakan fondasi yaitu cara berpikir kritis, kemampuan analisis, etika profesional, dan jejaring sosial. Tanpa disertai pengembangan diri di luar ruang kelas, ijazah memang berpotensi menjadi formalitas belaka. Sebaliknya, tanpa pendidikan tinggi, banyak individu juga kehilangan akses terhadap pengetahuan sistematis dan peluang profesional tertentu. Artinya, masalah utama bukan pada kuliahnya, tetapi pada cara memaknai dan memanfaatkan proses kuliah itu sendiri.

Penyebarannya anggapan bahwa kuliah tidak penting berpotensi menimbulkan dampak serius bagi masa depan bangsa. Jika pendidikan tinggi ditinggalkan begitu saja, maka kemampuan masyarakat untuk menghasilkan tenaga profesional, pemikir, dan inovator akan melemah. Dalam jangka panjang, hal ini dapat menghambat pembangunan dan daya saing nasional. Kritik terhadap pendidikan tinggi semestinya diarahkan pada perbaikan sistem dan relevansi pembelajaran, bukan pada penolakan total terhadap makna kuliah itu sendiri.